Senin, 06 Juli 2009

"Bahasa Wanita"

"gak boleh??? ... ya udah gpp" begitu katanya.

Apa begitu sulitnya bahasa wanita utk bisa di mengerti oleh laki-laki? Krn mereka berasal dari planet berbeda(mars dan venus)??? gak masuk akal. Laki-laki cuma paham kalo wanita senang di bohongi, itu dalam bahasa mereka (kaum laki) tentunya. Tapi bagi wanita? peduli setan mereka bohong atau enggak, intinya bukan pada "kata-kata manis" itu, tapi makna dibaliknya, yah ... wanita merasa berharga ketika laki-laki mencoba tetap bersikap manis ditengah cekcok yg terkadang cuma di pengaruhi perasaan sepihak semata. "cuma perasaan", nanti dulu, ini perlu diejawantahin lagi.

"perasaan" itu gk pernah cuma sekedar "cuma". Bukannya hubungan wanita dan laki-laki jadi indah krn adanya hal yg disebut "cuma perasaan". Bukannya kasih sayang juga termasuk "perasaan" yg enggak bisa disebut sekedar "cuma"?, kalo memang hanya sekedar cuma, knp bisa ada pembunuhan krn pengkhianatan (pengkhianatan tjd juga krn perasaan kan?), perang krn rasa lebih tinggi dari bangsa lain, cerai krn perasaan yg sdh berbeda???... mgkin analogi yg sedikit aneh, tapi semuanya bukannya memang timbul dari perasaan? Kalo memang begitu dahsyat efek yg ditimbulkan krn perasaan, kenapa dia hrs di degradasi dengan pernyataan "cuma"? ... hmmm ... sungguh pikiran picik orang yang ingin mencari alasan dan pembenaran.

Kembali pada perasaan wanita. Yah meski terkadang gombal dan berlebihan, tetapi wanita kenyataannya memang menyukainya. Kenapa? Karena ada rasa dihargai, ada usaha utk bisa menyenangkan pasangan, meski dlm perspektif subyektif. Tapi siapa yg butuh objektifitas, bicara soal cinta dan kasih sayang. "Cinta itu buta" kata pepatah, kenyataannya memang cinta menembus ruang batas logika manusia. Sebut saja itu bentuk keadilan Tuhan krn menganugrahkan cinta kpd siapa saja.

Ada "usaha". Yah, disinilah bentuk penghargaan itu timbul. Wanita merasa berharga ketika seseorang yang dicintainya berusaha utk tetap menyenangkan dirinya. Memberi rasa nyaman dan tenang ditengah kegusaran yg dialaminya. Aku curiga, aku takut, aku rindu, aku ingin dimanja, beri aku perhatian, ... kata-kata yang kadang begitu ringan dan dlm waktu berbeda mjd begitu berat di ucapkan.

Ditengah seribu kegusaran yg menghalau akal jernihnya, "usaha" laki-laki mjd begitu berperan utk mengendurkan otaknya yg menegang di bawa larut perasaan. "Aku benci kamu", apa itu berarti aku benar2 benci kamu?, bahasa wanita ketika mengatakan "aku terlalu cinta padamu, kenapa kau buat aku tak tentu, aku benci keadaan ini, cairkanlah dgn perhatianmu!!!". "Kalau begitu gak perlu ketemu lagi!" bahasa dibalut emosi yang seharusnya "kenapa begitu sulit mencari waktu utk ku, apa aku tdk cukup berharga utk kau perjuangkan ditengah rutinitas mu?". "Aku enggak mau ketemu!"... "yah, Tuhan sadar kah ia, aku terlalu rindu". "Jangan sentuh aku!", hmmm... "kemana saja belai lembutmu selama ini?"

Kata-kata itu hanya terjadi dlm kondisi gusar tak menentu. Skeptis dan penuh prasangka. Banyak faktor yg timbulkan kondisi ini. Tapi apa perlu terburu-buru menyimpulkan siapa yg salah dan siapa yg benar. Dalam kondisi wanita berprasangka, apa terlalu berat bagi laki-laki memahami utk lebih dulu sekedar menenangkan dgn kata-kata yang tidak menghakimi, tidak defensif, tidak meng'counter, dan tidak berpasrah. "Tidak berpasrah", yah dgn sedikit "usaha" sehingga wanita merasa berharga, merasa diinginkan, merasa diperjuangkan. Meski mulutnya mengeluarkan kata-kata pedih, tapi sebenarnya hati nyalah yang merasa pedih, ia hanya berusaha melindungi dirinya dari cintanya kpd laki2 yang kadang membuat ia gusar.

"Gak boleh? ... ya udah gpp" ... "Segitulah hargaku dimatanya, kemarahan ku bukanlah sesuatu yang patut kau dinginkan, senyumku tdk cukup berharga utk kau perjuangkan lebih. Hadirku, kau dapatkan syukur, enggak juga gak apa-apa."... fffiuuuhh.

Jika saja laki-laki memahami ini, memahami bahasa wanita yang kadang bertentangan dgn hatinya, memahami bahwa wanita ingin laki-laki berusaha lebih keras, agar ia tahu bahwa dirinya berharga, sehingga ia juga akan berusaha lebih keras utk mencintai laki-laki tsb dalam hatinya. Sehingga wanita merasa, cintanya kepada laki-laki bukanlah kesia-sian. Karena ia tahu, laki-laki lah yang membuat ia merasa berharga dan patut diperjuangkan.***

_Untuk Cinta_





Selasa, 24 Maret 2009

Cinta Tak Seharusnya

Tuliskan aku sebuah lagu ... tentang kerinduan yg merajai hati
Tuliskan aku sebuah lagu ... tentang wajahmu yg menghuni mimpi
Tak kurasakan perih mengiris ... tak kurasakan pedih menepi
Hanya ada indah dan dirimu ... hanya ada kilau dan cintamu

Memang cinta kita tak semestinya
Tak seharusnya membara di kalbu
Terbuai rindu dan hanyut disekam gelora
Jangan kau kira ini hanya jeda
Tuk mengisi waktu yang hampa
Bukanlah aku yang biarkan cinta
Datang bermain dan jadi cerita

Nyanyikan aku sebuah lagu ... ketika kita menepi dari realita
Senandungkan kisah kita ... yang berlari dari penat jiwa
Andai tak perlu sembunyi ... berharap waktu kan resapi
Bahwa kita sedang menyapa ... bahwa cinta tak kan hina

(Dedicated to: *******)



Kamis, 19 Maret 2009

Brokenheart

Malam itu fisik ku tdk spt biasanya, entah apa yang menyebabkan, mungkin terlalu banyak pekerjaan yg menyita stamina, atau mungkin kejenuhan kerja mulai melanda otak dan mentalku, atau justru ... mungkin karena tergulung kerinduan yang menerjang teramat sangat hingga tak mampu tertahankan dan aku hanya bisa terkulai lemas dlm pengharapan. Yah, kerinduan ... aku begitu merindukan sosok yang kuyakini telah jadi milik hatiku, yang kerap hadir dlm kekosonganku, yang membuatku selalu menanti akhir minggu segera menyapa.

Tapi ku tersadar bahwa ia sedang membagi cinta, ... dan aku hanya menerima sebahagian cinta yg mungkin akan sirna terpental realita. Cinta yg begitu rapuh tak punya kepastian. Hanya keyakinan semu berkedok cinta yang membuat aku terus menjajaki langkah demi langkah kepahitan menebak hari dan hati. Ia terus menggerayangi sepiku. Hingga tiba hari pertemuan yg hampir penat kunantikan. Wajahnya begitu sendu namun bersinar. Malam itu ia terlihat begitu memukau jiwaku. Seakan ingin aku melompat dlm pelukannya dan membelai wajah segarnya. Lalu waktu melarutkan kita dalam suasana, namun entah ... entah.

Seketika saja kelelahan alam pikir ku meremas semangatku saat bersamanya. Bibir ku hanya beku meski seribu kata membanjiri volume otakku. Ingin aku tegaskan, ingin aku memohon, jauh ... dan jauhkanlah hatimu dari kasih dan kisah bersamanya. Ingin aku mengiba, jadi ... dan jadikanlah aku dermaga rindu saat kau rindu, pelabuhan hati tempat kau sandarkan kasihmu, dan biarkan semua tahu bahwa kau adalah aku, dan aku adalah kau. Tapi aku terus bersandar semakin tak kuasa, hanya goresan wajah sendu yg tersirat dan berharap kau merasakan ... aku terbenam sedih dan tersisih, bahwa aku berlari sendiri mengejar langkahmu yang bersanding dengannya. Oh tidak, maafkan, meski bibir itu begitu nikmat kurasakan, begitu tulus kau curahkan, aku tak kuasa larut, aku tertahan dlm semrawut ketakutan dan keinginan terus bersama dirimu mengarungi waktu. Aku ingin akhir yg bahagia, tapi aku mulai merasa kalah diterjang sejuta kegalauan yang terus berdengung. Ingin ku abaikan, tapi syaraf-syaraf otakku seolah berhenti pada kegaduhan hati.

Seketika itu juga...waktu berhenti...tidak, bukan waktu, tapi kehangatan yg menghampiri dengan indahnya bersama sejuta hasrat penuh bunga cinta. Aku pun tak berdaya meluapkan keinginan utk terus berada dlm hasrat yg begitu kurindukan. Sontak, hasrat itu tertutup muram yg berhari-hari, berminggu-minggu kurasakan. Hati bergejolak dgn segala pengharapan, sementara bibir ku terkunci, bergetar namun tetap terkunci, tak sepatah kata pun terlontar dari kerongkongan yg tersedak puluhan kata-kata yg kutakut jika terlontar, hanya akan membuat kau jauh. Lalu hanya mataku saja yg terus menatap sendu, berharap pancarannya akan mampu menggantikan butiran kata-kata yg tercekat. Berharap sinar redupnya akan mampu menyampaikan kegundahan hati.

Dibawah lampu temaram, diselimuti pekatnya malam, ini akan jadi malam terakhir aku memeluk hangatnya kasihmu. Ini akan jadi kenangan terakhir aku mengenggam erat bayangan kekasih. Ini ... hingga saat kau berlalu di luar pagar hunianku dgn wajah penuh tanya dan kecewa. Tak kusangka, itu adalah saat aku harus bersiap utk meneteskan bulih air mata menangisi kepergianmu. Bukan utk menghilang, tapi utk ketidakberadaanmu di sisiku lagi sbg pemantik semangat hidupku. Bukan krn cintaku telah sirna, spt yg kau bayangkan dlm ruang pradugamu. Tapi krn aku tak mampu menyelesaikan kerinduan tak tertahan, dgn kata-kata pengharapan, dgn kalimat memohon perhatian dan pengertian, dgn suara keinginan utk lebih memiliki dirimu. Semua krn rasa takut, takut merasa kalah, kalah dlm persaingan merebut hatimu yg begitu tulus di mataku. Aku takut kau merasa terdesak, takut membuat kau bimbang, sungguh aku tak ingin memaksa. Tapi diam pun ternyata bukan sebuah penyelesaian.

Kini ... hingga waktu terus berlalu membenamkan ketegaran hatiku. Hingga angin pantai membelai sekujur tubuhku, hingga air riuhnya datang dan pergi ke tepi, hingga tawa-tawa bocah bermain di sekelilingku. Aku hanya terdiam lesu, menepi di atas bongkahan batu dgn jiwa terkoyak. Berharap ombak mendengar perih yg kutelan, lalu ia akan bercerita pd burung-burung yg terbang ceria di atas laut biru. Berharap burung-burung itu akan terbang puluhan mil utk menyampaikan padanya. Bahwa aku disini, ... berusaha tenggelam dlm suasana keramaian, dlm indah panorama alam. Tapi kehangatan kasihnya jauh lebih indah dari semua yg tergurat di sekelilingku. Kini, ... semua pelarian telah sia-sia tanpa hadirnya, dan kini, ... aku tak tahu harus apa lagi ...

For My Heartbreaker

Jumat, 27 Februari 2009

C'mon...

God...shit...here it is...his coming...

yes yes... gw ketemu dia lagi, wauw...unexpectable...anjriit, gak peduli telat masuk kantor, biar bisa ngobrol sedikit ajah dengannya, okey ... stay cool ... look nice ... get your hair done ... siallll baru turun motor lom sempet numpang di kaca (motor) orang tuk sekedar ngebenerin bentuk rambut yang ngikutin cetakan helm ... ffiiiuuhhh ... gpp, tetep tenang, sambil tangan gue sedikit refleks gak tenang berusaha bikin rambut keliatan sedikiit ajah rapih..walau gak ngaruh juga seeh...

"allo mas @#$%#%$#^ %&%^8878^ ^*%%&(&*)*^ %&$%^@$%!@#$%# %$^$%^$"

dan terjadilah pembicaraan itu, .....

dame ... kaki 'lom mau bergerak melanjutkan rutinitas, mengejar timing turun naik lift, huuufff ... gw masih mau berlama-lama bertatap-tatap, shit ... he's not my usely kind of type, tapi kenapa dia seperti sedang melempar jangkar dengan meninggalkan tatapan mata selepas turun dari lift ketika tuk kedua kalinya bertemu. Yah ... ini dia, kelemahan yang gue gak bisa atasi, kalau mata sudah berbicara, sampai sekarang gue terus menanti pertemuan berikutnya. It's already happen beib, lo udah ketemu lagi, but what???... u don't use the moment nicely, get his name, change your phone number, keep contact. Bukan itu yang justru terjadi: quick conversation, being cheerfull, dengan berbunga2 melangkah pergi dan tersenyum sendiri. Girl..!!!! You forget something ... stupid.

Sudah gue tetapkan, pertemuan selanjutnya haruslah sebuah perkenalan sempurna dengan jabatan tangan dan saling menyebut "NAMA" masing2, lebih sempurna lagi jika susunan nomor telepon masing2 tersimpan di memori satu sama lain. PERFEK.SEMPURNA.

Let me see ... ini adalah pertemuan ke-?????.... hmmm... empat? GOD ... dan gw masih lom tau namanya, kemane ajeee nooon???... pertemuan ke 2, dimaklumi ... lom timbul apa2, hanya tegur sapa sebatas sopan santun. Pertemuan ke 3, wajar gak bisa berbuat apa2, kondisi terlalu rame, hanya berpapasan sementara dia berada di antara segerombol teman2nya. But now? ... gila ... ke-4, dia sendiri, elo sendiri, we chat, and ... GUBRAKSSSS ... lo kan lom tau namanya ... GOSH..C'mon ...