Malam itu fisik ku tdk spt biasanya, entah apa yang menyebabkan, mungkin terlalu banyak pekerjaan yg menyita stamina, atau mungkin kejenuhan kerja mulai melanda otak dan mentalku, atau justru ... mungkin karena tergulung kerinduan yang menerjang teramat sangat hingga tak mampu tertahankan dan aku hanya bisa terkulai lemas dlm pengharapan. Yah, kerinduan ... aku begitu merindukan sosok yang kuyakini telah jadi milik hatiku, yang kerap hadir dlm kekosonganku, yang membuatku selalu menanti akhir minggu segera menyapa.
Tapi ku tersadar bahwa ia sedang membagi cinta, ... dan aku hanya menerima sebahagian cinta yg mungkin akan sirna terpental realita. Cinta yg begitu rapuh tak punya kepastian. Hanya keyakinan semu berkedok cinta yang membuat aku terus menjajaki langkah demi langkah kepahitan menebak hari dan hati. Ia terus menggerayangi sepiku. Hingga tiba hari pertemuan yg hampir penat kunantikan. Wajahnya begitu sendu namun bersinar. Malam itu ia terlihat begitu memukau jiwaku. Seakan ingin aku melompat dlm pelukannya dan membelai wajah segarnya. Lalu waktu melarutkan kita dalam suasana, namun entah ... entah.
Seketika saja kelelahan alam pikir ku meremas semangatku saat bersamanya. Bibir ku hanya beku meski seribu kata membanjiri volume otakku. Ingin aku tegaskan, ingin aku memohon, jauh ... dan jauhkanlah hatimu dari kasih dan kisah bersamanya. Ingin aku mengiba, jadi ... dan jadikanlah aku dermaga rindu saat kau rindu, pelabuhan hati tempat kau sandarkan kasihmu, dan biarkan semua tahu bahwa kau adalah aku, dan aku adalah kau. Tapi aku terus bersandar semakin tak kuasa, hanya goresan wajah sendu yg tersirat dan berharap kau merasakan ... aku terbenam sedih dan tersisih, bahwa aku berlari sendiri mengejar langkahmu yang bersanding dengannya. Oh tidak, maafkan, meski bibir itu begitu nikmat kurasakan, begitu tulus kau curahkan, aku tak kuasa larut, aku tertahan dlm semrawut ketakutan dan keinginan terus bersama dirimu mengarungi waktu. Aku ingin akhir yg bahagia, tapi aku mulai merasa kalah diterjang sejuta kegalauan yang terus berdengung. Ingin ku abaikan, tapi syaraf-syaraf otakku seolah berhenti pada kegaduhan hati.
Seketika itu juga...waktu berhenti...tidak, bukan waktu, tapi kehangatan yg menghampiri dengan indahnya bersama sejuta hasrat penuh bunga cinta. Aku pun tak berdaya meluapkan keinginan utk terus berada dlm hasrat yg begitu kurindukan. Sontak, hasrat itu tertutup muram yg berhari-hari, berminggu-minggu kurasakan. Hati bergejolak dgn segala pengharapan, sementara bibir ku terkunci, bergetar namun tetap terkunci, tak sepatah kata pun terlontar dari kerongkongan yg tersedak puluhan kata-kata yg kutakut jika terlontar, hanya akan membuat kau jauh. Lalu hanya mataku saja yg terus menatap sendu, berharap pancarannya akan mampu menggantikan butiran kata-kata yg tercekat. Berharap sinar redupnya akan mampu menyampaikan kegundahan hati.
Dibawah lampu temaram, diselimuti pekatnya malam, ini akan jadi malam terakhir aku memeluk hangatnya kasihmu. Ini akan jadi kenangan terakhir aku mengenggam erat bayangan kekasih. Ini ... hingga saat kau berlalu di luar pagar hunianku dgn wajah penuh tanya dan kecewa. Tak kusangka, itu adalah saat aku harus bersiap utk meneteskan bulih air mata menangisi kepergianmu. Bukan utk menghilang, tapi utk ketidakberadaanmu di sisiku lagi sbg pemantik semangat hidupku. Bukan krn cintaku telah sirna, spt yg kau bayangkan dlm ruang pradugamu. Tapi krn aku tak mampu menyelesaikan kerinduan tak tertahan, dgn kata-kata pengharapan, dgn kalimat memohon perhatian dan pengertian, dgn suara keinginan utk lebih memiliki dirimu. Semua krn rasa takut, takut merasa kalah, kalah dlm persaingan merebut hatimu yg begitu tulus di mataku. Aku takut kau merasa terdesak, takut membuat kau bimbang, sungguh aku tak ingin memaksa. Tapi diam pun ternyata bukan sebuah penyelesaian.
Kini ... hingga waktu terus berlalu membenamkan ketegaran hatiku. Hingga angin pantai membelai sekujur tubuhku, hingga air riuhnya datang dan pergi ke tepi, hingga tawa-tawa bocah bermain di sekelilingku. Aku hanya terdiam lesu, menepi di atas bongkahan batu dgn jiwa terkoyak. Berharap ombak mendengar perih yg kutelan, lalu ia akan bercerita pd burung-burung yg terbang ceria di atas laut biru. Berharap burung-burung itu akan terbang puluhan mil utk menyampaikan padanya. Bahwa aku disini, ... berusaha tenggelam dlm suasana keramaian, dlm indah panorama alam. Tapi kehangatan kasihnya jauh lebih indah dari semua yg tergurat di sekelilingku. Kini, ... semua pelarian telah sia-sia tanpa hadirnya, dan kini, ... aku tak tahu harus apa lagi ...
For My Heartbreaker
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar