Tuhan,
Belakangan hari ini aku sangat lelah, fisik dan pikiran, tak punya semangat dan tujuan. Aku telah kehilangan seseorang, kini aku tak punya lagi tempat bercerita, tak tahu lagi pada siapa harus aku tumpahkan semua ini. Aku jadi sering termenung dan tiba-tiba sesak lalu tak kuasa menahan air mata. Tuhan aku ingin bercerita kepada-Mu, walau ku tahu Engkau pasti lebih tahu.
Saat ini aku sedang hancur lebur karena dia. Seseorang yang belum pernah aku curahkan seluruh rasa terdalamku kecuali padanya. Dia datang di saat yang tepat. Tidak, maksudku tepat disaat aku membutuhkan sosok sepertinya. Saat itu pun hatiku sedang terkeping-keping. Aku masih mengobati dan membangun rasa percaya diriku. Berusaha bangkit dari luka yang begitu perih. Dari luka yang membuat aku harus berlari menjauh dan menyepi.
Lalu ia datang disaat aku masih bimbang dan hati terombang-ambing. Sesekali ia menatapku dengan tajam, sesekali ia merangkul penuh canda. Suatu kali ia memainkan petikan gitar syahdu dan mendayu. Tanpa sengaja pandangan kami bersatu. Sejak saat itu aku merasa ada yang beda. Pikiran nakalku kadang membayang sosoknya bersamaku. Hah, tidak, hanya pikiran konyol, ucapku dalam hati sambil tersenyum.
Hingga waktu dimana ia merayakan hari spesial dalam hidupnya. Telah aku susun kata-kata ucapan sebelum pergantian hari tiba. Aku tak ingin terlambat satu detikpun, pikirku. Telah ku setting dalam keadaan siap kirim. Aku ingin menjadi orang yang pertama menyelamatinya. Tak kukira setelah pesan terkirim,... tiba-tiba telepon genggamku berbunyi dan terpampang namanya dilayar ponsel. Pembicaraan singkat. Aku masih ingat Tuhan, pembicaraan saat itu yang menjadi awal hubungan kami. Terucap sebuah janji sederhana yang tak kukira akan berujung pada kehancuranku saat ini. Ucapan selamat dariku dan permintaan sederhana kepada yang sedang berbahagia. Aku ingat jawaban darinya,..."Iya, tapi kita berdua saja ya?", lalu kubalas dengan tawa dan jawaban seadanya.
Janji itu ternyata menjadi sebuah hutang yang tertagih. Waktu berlalu jauh dan ia pun masih ingat janjinya akan mengajak aku. Bahkan akupun sudah tak mempedulikan janji yang kupikir hanya canda saja. Hingga suatu hari kami saling meledek dan terucaplah dari mulutnya sebuah ajakan dengan alasan, "Kan aku masih punya janji".
Hingga tiba hari itu kami berdua. Saat itu akupun masih terus berusaha menghapus masa lalu dengan menghabiskan hariku untuk apapun agar tak ada tempat untuk aku memikirkannya lagi. Kuputuskan menerima ajakan pemenuhan janjinya. Kami pergi ke sebuah Cinema secara terpisah dan bertemu disana. Begitu canggung. Aku masih ingat, saat itu ia sedikit tidak nyaman dan gelisah. Waktu berjalan dan kami pun duduk bersebelahan menyaksikan sebuah film. Aku menyimpan sebatang kecil coklat dalam tasku yang kami beli sebelumnya. Aku menawarkannya padanya. Ia pun mengambil coklat itu, perlahan dan ragu iapun berusaha mengenggam tanganku. Kutarik cepat-cepat dan ia pun menghentikan geraknya. Tuhan,… sejak saat itu hatiku tidak tenang, aku tak tahu harus bersikap apa padanya. Lalu kami pulang terpisah, namun saat itu cuaca tak bersahabat. Hujan lebat dan banjir sepanjang jalan. Sesampainya dirumah ia mengirimkan pesan menanyakan keadaanku dan meminta maaf akibat ajakannya aku harus pulang diguyur hujan lebat.
Tuhan, setelah kejadian itu ia suka mengirimkan pesan diluar dari kebiasaannya. Aku tak suka dibuat penasaran dan takut salah menanggapi. Kuberanikan diri menanyakan ada apa dengannya terhadap diriku. Bisa jadi ia kaget saat itu. Ia pun meminta aku berjanji untuk tidak menertawakannya kalau ia bicara jujur. Tak kukira arah perasaan ini benar adanya, ia menyatakan cinta yang diakuinya telah dipendamnya cukup lama.
Akhirnya kami pergi untuk kedua kalinya. Secara langsung ia menceritakan isi hatinya. "Kenapa aku?" tanyaku, "Kamu beda, kamu unik." jelasnya. Aku masih ingat ucapannya pertama kali disaat kami memutuskan memulai semua ini "Kalau saja aku masih sendiri, saat ini juga aku lamar kamu." Aku juga masih ingat dimana akhirnya pertama kali ia meminta tanganku untuk ia genggam, serta merta ia dekap erat di dadanya lalu ia menciumnya lembut penuh kelegaan. Aku bisa merasakan getarannya saat itu. Begitu indah dan begitu dalam.
Sejak saat itu Tuhan, waktu berlalu, hubungan ini berjalan menuliskan kisahnya. Tercatat setiap masa dan waktu yang kami lewati bersama. Semua begitu indah, semua begitu menguatkan ikatan hati kami. Aku pun menyimpan semua masa itu dalam hati.
Aku masih ingat saat pertama kali ia menangis di pundakku, mengucapkan penyesalan karena merasa telah berlaku kurang ajar padaku. Sesengguk tangis seorang dewasa yang ikut membuat aku haru. Hatiku kembali bergetar, merasakan luapan emosi dan dalamnya perasaan yang teraba dari tubuhnya.
Aku masih ingat saat kami selalu bersama sepulang dari rutinitas. Menghabiskan waktu disebuah warung lesehan dengan lampu temaram. Kami meminjam sebuah gitar. Ia memainkannya dengan penuh perasaan. Aku selalu suka melihatnya memetikan jari-jarinya pada senar gitar, mengeluarkan melodi-melodi indah penuh makna. Akupun memintanya menyanyikan sebuah lagu syahdu dan merekamnya. Rekaman itu hingga kini menjadi teman bagiku disaat derasnya rindu membuat tubuhku gemetar. Hatiku serta merta merasa tenang mendengar lantunan syahdu suaranya. Namun ia jarang sekali mau bernyanyi meski kuminta, ia tak tahu itu adalah sebuah obat mujarab bagi hatiku yang tak bisa selalu dekat dengannya.
Akupun masih terkenang, ia selalu kelelahan usai rutinitas, hingga aku pun selalu memijat tubuhnya untuk melepas ketegangan. Ia selalu senang meletakkan kepalanya dalam pangkuanku.
Aku masih ingat malam-malam menahan kenyerian rindu. Air mataku mengalir deras dan nafas tersengal menahan sakit karena ia tak dekat. Malamku begitu berat kulalui, ingin kuluapkan dengan teriakan, namun tertahan diujung tenggorokan, hingga kelelahan menahan nyeri saja yang membuat aku akhirnya bisa tertidur.
Aku masih sangat ingat ketika menghabiskan malam dipinggir pantai ditemani nyanyian ombak, lalu kami melagukan berbagai nyanyian bersama sambil tertawa penuh bahagia. Aku masih ingat kelucuan atas kecerobohanku di Brastagi. Masih ingat saat itu aku memaksanya membeli sepasang kalung hati. Liontinnya terpisah dan disatukan magnet, lambang pengikat abadi. Satu untukku dan satu untuknya. Aku masih ingat kami memakainya dan berjanji menjaganya untuk dipakai kembali.
Masih sangat jelas pada malam dingin dan dipeluhi rintik hujan. Anginnya begitu kencang dan menusuk tulang. Kami berdua bertahan pada sebuah ayunan. Hhh, kami terlalu dewasa untuk mendudukinya. Perlahan kami ayun lalu ia memaksanya kencang. Kami duduk disatu bangkunya dan saling bercerita. Saat itu ia tidak terlalu sehat. Tubuhnya menggigil kedinginan. Tapi aku terus memaksanya untuk menyanyikan satu lagu kenangan. Aku selalu rindu senandung indah suaranya. Saat itu aku sempat meneteskan air mata, entah mengapa, diantara kisah indah yang kami punya, tapi kenyataan sulitnya hubungan ini menyesakkan dada. Aku bahkan tak tahu kalau itu pertanda. Bahwa itu adalah saat indah terakhir sebelum semua benar-benar berakhir.
Air mata itu kembali terjatuh saat ia lalu terbaring demam. Aku buatkan minuman hangat dan kubasuh tubuhnya dengan minyak penghangat. Perasaan bersalah menyergap perasaanku karena telah membuatnya sakit. Aku meneteskan air mata kesedihan dan keinginan. Hatiku memohon lirih "Ya Tuhan, aku ingin menjadi orang yang selalu merawatnya!" Aku masih ingat ketika menunaikan niatku untuk memeluknya erat tanpa sepatah katapun terucap. Kudekap ia kuat-kuat, dengan segenap ketakutan yang menghantui masa depanku bersamanya. Benarlah kini, itu adalah saat terakhir aku bisa mendekapnya dengan kuat. Waktu berlalu beberapa hari setelah itu, kami bertemu dan seperti biasa ia mengantarku hingga jarak terdekat dengan rumah. Sepanjang jalan aku memeluk tubuhnya, hatiku bergetar kencang penuh ketakutan hingga air mata kembali jatuh dipunggungnya. Saat aku harus melangkah menuju rumah, ku genggam tangannya erat-erat, oh Tuhan saat itu terasa begitu berat entah mengapa, ada ketakutan begitu besar bersarang dihatiku, aku tak kuasa untuk melepas tangannya, hingga aku harus memaksa tubuhku membalik, dan sekali lagi,…air mata itu jatuh tak tertahankan. Ternyata itu sebuah firasat. Aku terbaring di atas tempat tidurku dengan dada begitu sesak, derasnya air mata itu tak mau berhenti.
Selepas itu sulit sekali bagi kami untuk bisa bertemu, selalu ada saja urusan yang jauh lebih penting dari hati yang dahaga. Aku selalu bersemangat menunggu akhir minggu untuk kembali bisa bertemu. Namun semangat itu surut perlahan dengan kekecewaan dan kekecewaan. Aku harus mengalah dengan keadaan. Hingga aku harus memaksa hatiku untuk tidak berharap agar tidak merasakan lagi kekecewaan.
Kini, …oh Tuhan, kini aku harus menutup semua kenangan itu menjadi album hitam putih. Sebuah masa yang pernah ada dan tak mungkin untuk ku ulang lagi bersamanya. Semoga saja ia masih mau mengingat masa-masa itu dalam hatinya. Menyimpan semuanya sebagai sebuah kenangan yang berharga.
Engkau tahu Tuhan, setelah semua insiden itu, kini hatinya memendam kebencian padaku. Hatinya mengutuk dan menjauh. Menimpakan semua kesalahan padaku. Setelah aku bertindak melawan keadaan yang mendesakku jauh. Terpojok dan tak kuasa lagi ditekan situasi emosi. Ada harapan disitu, ada kegalauan, ada kerinduan, ada penantian, kusikapi dengan luapan emosi dan akhirnya berujung pada kehancuran. Lalu hatinya memilih bersikap memusuhi, tanpa mau tahu apa yang mengawali, tanpa mau mengerti apa yang kualami. Kini aku adalah musuh baginya, aku tak lebih dari seorang yang telah menghancurkan dan bertindak kejam. Ia mempunyai kecenderungan untuk selalu anggap aku begitu. Aku semakin membuatnya jauh. “Kamu kejam, kamu punya sifat menghancurkan.” makinya.
Aku salah karena mengambil sikap terlalu berani mengakui adanya hubungan kami. Tidak, sebelumnya pun ia sudah menghindar dariku. Sakitnya tersisihkan dalam kesehariannya membuat aku tidak terkendali, dan itu tak termaafkan baginya. Ia katakan aku meneror, kurang ajar dan tak bisa menjaganya. Padahal aku hanya tak ingin ia terus-menerus hidup dalam kekosongan sambil memelihara khayalan. Aku mengharapkan satu tindakan berani darinya, membela hubungan ini, tapi aku salah, aku justru menghancurkan segalanya. Tuhan, sungguh aku ingin tahu apakah ini caramu membuka seberapa dalam hatinya? Caramu untuk menyadarkanku bahwa ia tak patut kuperjuangkan? Mungkin saja aku sudah tahu namun tak mau mengakuinya lalu memilih untuk menistakannya.
Kini aku benar-benar hancur, ia menutup hubungan ini dengan kebencian. Entah kapan ia akan memaafkan aku, dan menganggap tindakan ku itu karena aku hanya keledai bodoh yang selalu berbuat ceroboh. Aku masih menyimpan kata-katanya yang seringkali ia ucapkan, “Sayang jangan tinggalin aku!” pintanya. Atau kutukannya yang terlontar karena merasa dicampakkan. Oh Tuhan, kini itulah yang ia lakukan padaku.
Engkau tahu Tuhan, awalnya aku selalu takut untuk merelakan hati sepenuhnya karena aku takut ini akan terjadi. Tapi berkali-kali ia meyakinkan aku seakan-akan dirinya mati tanpa aku. Tak kusangka akhirnya akupun menyerah pada setiap kata pengharapan dari bibirnya. Melepaskan kesempatan yang mungkin saja lebih baik. Aku sadar betul dan kuyakin sepenuhnya ia tidak akan berdiri disampingku jika hal ini terjadi. Terbuktilah sudah. Rasanya seperti menunggu tamparan yang pasti akan datang dan telah bisa kubayangkan sakitnya. Tapi benarkah Tuhan, hatinya sedatar itu selama ini?, hanya karena kelemahanku maka aku tak mampu membacanya.
Kini ia tegaskan “Ya, aku bahagia bersamanya”, memaksa aku untuk merelakan semuanya, memaksa diriku melupakan yang pernah ada, atau janji apapun yang pernah terucap tanpa bsa menagihnya, Akupun harus melindungi hatiku agar tidak semakin dalam terluka. Oh Tuhan ini adalah luka yang sama yang pernah kurasakan beberapa tahun lalu, ia pun tahu, dengan teganya ia timpakan padaku kembali, ia merobek luka lama itu.
Oh Tuhan, kini aku hanya berharap ia masih mau memenuhi permintaan terakhirku sebelum aku melangkah meninggalkan semua ini, agar beban yang kubawa ini bisa sedikit terkurangi, karena sejak saat ini, langkah ku akan sangat berat, sendiri dan kembali ingin melarikan diri sejauh yang aku bisa, mencari-cari cara untuk tidak hanyut dalam pusaran perih ini. Meskipun kini ia membenciku, dengan segala kekurangan dan kecerobohanku, aku berusaha hanya ingin membayangkan yang indah-indah saja saat bersamanya. Agar perihnya tidak semakin menggerus. “Aku masih ada” ucapnya terakhir kali, aku tak tahu apa aku masih bisa menagih kata itu padanya.
Oh Tuhan, ini sangat berat, jauh lebih berat dari yang kurasakan sebelum-sebelumnya. Aku sendiri tak tahu apakah aku akan mampu membuka hati dengan resiko kembali terluka. Apalagi untuk mencari sosok yang serupa ataupun lebih darinya. Seorang kawanku mengatakan, “Laki-laki berhak memilih, apalagi dia sudah dewasa, tahu mana yang sakit mana yang tidak, jika dia sudah tahu dan memilih untuk kembali sakit, itu pilihannya. Anak kecil saja kalau sudah tahu jatuh itu sakit, ia tidak mau lagi. Jadi relakan saja.” Ucapan itu mengingatkan aku pada ucapannya beberapa tahun lalu saat kami masih bersama, ia menyayangkan sikap laki-laki yang meninggalkanku, “Dia itu laki-laki, berhak memilih, bodoh kalau dia memilih wanita karena kasihan, karena itu akan ia jalani sepanjang hidupnya, kalau ia sudah memilih berarti dia cinta”. Ya, mungkin itu jawabannya, Cinta. Kalau ia tidak cinta, aku tak akan memaksanya lagi, mengemis-ngemis dengan merendahkan diriku sendiri. Apalagi dengan mudahnya ia memilih benci padaku. Aku tak mau menyakiti diriku sendiri lagi. Sudah cukup bagiku.
Tuhan, kuatkanlah aku di masa kesendirian ini. Temanilah hidupku dengan Ruh-Mu, tuntunlah aku dengan petunjuk-Mu. Dan jagalah ia yang telah menghancurkanku. Semoga hatinya bahagia, tidak lagi merasa “kosong” seperti yang selama ini dirasakannya, sungguh aku tak sanggup membayangkan ia kembali hidup dalam kondisi seperti itu lagi. Berikan yang terbaik bagi kami berdua, dan ikhlaskan lah aku menerima semua ini. Amin
Tuhan, terima kasih telah mendengarkan aku, semoga ini akan menguatkanku, dan tak akan Kau timpakan sesuatu yang lebih berat lagi dari ini. Aku hanya ingin hidup dalam cinta kasih abadi, hal langka yang belum kurasakan hingga saat ini. Semoga Tuhan, semoga.
.jpg)