Rabu, 03 November 2010

Aku Capek,...

'Aku cuma capek",,, tulisnya menyambung kalimat pengakuan sebelumnya yang lebih mengiris. Sontak aku terhenyak dan tak mampu menelan makanan yang sudah ada diujung lidah. Kutaruh kembali piring berisi makanan penuh. Tiba-tiba saja hilang sudah selera untuk mengisi perut yang sedari tadi menahan lapar. Dengan menahan gemetar, cepat-cepat kuhapus genangan yang memudarkan pandanganku seketika kubaca kalimat itu. Bergegas aku keluar menjauhi kerumunan asing tempatku berada, aku tak mau terlihat bodoh menitikkan air kesedihan, kusembunyikan wajahku dan kuhapus bulir air mataku sekenanya.

Tak ingin aku larut terlalu jauh, kuambil nafas untuk mengendalikan dadaku yang sesak. Berusaha aku tutup ingatanku akan kata-kata yang begitu mengiris.

Dia akan pergi? benarkah Tuhan, dia sudah lebih dulu lelah dengan semua ini. Kekalutanku beberapa hari ini dijawabnya dengan kelelahan, oh ... getir terdengar. Emosiku masih meluap, ku kutuk semua perkataannya, seperti tertampar dan bangun dari ketidaksadaran. Benarkah ini akan terjadi lagi Tuhan? Benarkah ...

Aku pernah hancur dengan segenap jiwa surut tak berdaya, setiap langkah kutapak dengan hampa. Haruskah kualami lagi Tuhan? Kenapa Engkau hadirkan seseorang yang hanya akan mencabik-cabik jiwaku. Dia tahu betul apa yang pernah kujalani, tersisih dalam romantika. Tersudut pada sebuah elegi jiwa. Ya, ... dia sangat tahu, dia tahu aku pernah memungut serpihan dari pengharapan yang mengering tertiup angin gurun. Panas dan mengering. Dan sekarang ia hendak hadapkan aku pada cerita yang sama. Dia minta aku untuk kembali memungut serpihan dengan membawa jiwa kosong ... dengan mata nanar tak menatap, telinga riuh tak mendengar, hati perih tak merasa.

Jika boleh aku meminta Tuhan, ... ambil saja jiwa ini bersama-Mu.

Jika boleh aku mengeluh Tuhan, ... aku tak punya lagi udara untuk bernafas, untuk menanggung luka yang kembali meradang sekian kali. Hakekat hidupku telah mati, bersama jiwa yang hendak meninggalkan aku pergi. Tak ada lagi air yang akan menyirami kekeringan nestapa ini.

Izinkan aku mati, izinkan aku tinggalkan dunia ini, untuk tak lagi merasakan nyeri dan sepi. Maafkan aku Tuhan karena telah berputus asa, karena gagal mencari hakekat hidup yang Kau tebar di bumi. Aku sudah tersesat jauh, tak tahu jalan kembali, tak punya penuntun lagi.

"Aku cuma capek",,, kembali kuingat kata yang terasa pahit kutelan. Kini kata itu meresap begitu dalam, hingga sepanjang perjalanan pulang, otakku terus berfikir mengelakkan pilunya, pilu dari sebuah kalimat singkat mencekat. Pilu yang membuat aku berteriak memohon kematian. Karena tak ada yang mampu menyisihkan pedihnya selain berbaring tak bernyawa.

Ia tak merasa, dan tak mau coba merasa. Bahwa ungkapan itupun kurasa saat menanti hadirnya. Ia tak merasa, sosoknya adalah sebuah keindahan penuh makna, menyejukkan dan menenangkan. Kutunggu, sekali lagi kutunggu, dengan tetap bersabar kutunggu, hingga "capek" datang kutunggu, dan kau ... tetap tak datang ... "Aku cuma capek" ... dan kau ingin pergi,,,,Tuhan, dia akan pergi ,,, aku ikhlas Tuhan, angkatlah nyawaku, jangan Kau biarkan aku merasakan nyeri lagi, aku hanya ingin mati memeluk bumi.

Tidak ada komentar: