Sabtu, 30 Oktober 2010

Kenyataannya ...

Mencoba menghibur dan terhibur dengan buku hasil rangkuman blog yang konyol (meski terlalu memaksakan dalam penilaianku). Mau apalagi, hanya ada buku itu yang ada dan terlihat ringan ditengah kemelut pikiran ini. Hilang semua semangatku 24 jam ini, tersulut sikapmu yang membuat aku geram. Berkali-kali, terus terulang, seolah tak ada satu katapun keluar dari mulutku, yang notabene teriakan hati yang terperih, kau dengar apalagi untuk kau ingat.

"Maaf kan aku kl slah syang" isi pesan singkatmu yang malah semakin terdengar memilukan. Bagaimana mungkin "kl" (baca: kalau)??? Jelas aku sudah mengacuhkanmu sejak kau matikan perbincangan kita dari ujung gagang handsetmu. Bagaimana masih "kalau", jika tak satupun pesan singkat dan telfon mu kutanggapi. Susahnya membuat kamu mengerti.

Artinya "sakit" ketika aku bilang sakit. Perasaan yang tidak kulebih-lebihkan, tidak pula ingin aku kurangi maknanya ketika kusampaikan. Terlontar dengan kegeraman dan tak keberdayaan menimbun semua hal yang terjadi. Masih saja kau tak mengerti, atauuu ... memang tak ingin? Tak apalah, tapi jangan tempatkan aku bersalah karena lelah berkata-kata. Sejenak biar ku diam tak merasa, meski sebenarnya tak mengurangi sedikitpun perih yang meradang.

Kenyataannya aku lebih suka memaki, adu cekcok, debat mulut denganmu ketimbang diam menahan luapan emosi yang sesak. Mengacuhkanmu tak menyelesaikan masalah, tapi sungguh aku tak tahu lagi harus bagaimana mengesampingkan rasa nyeri ini. Sering aku lelah mengalah, tapi selalu ku hadang dengan rasa takut kehilangan. Aku masih ingin bersama. Lalu aku mulai rapuh dengan rasa rendah diri, berulang satu pertanyaan bergaung tak mau pergi "Apa aku penting?". Dengan semua tindakan pilihanmu, entahlah ... begitu berat menistakan jawabannya. Kuharap dan kunanti jawabmu yang mampu melepaskan kegalauan ini.

Sulit membayangkan kau jauh untuk waktu yang lama. Entah mengapa kau tega mengalahkan aku untuk semua rutinitas. Entah pula apa yang kau cari dalam hidupmu, seolah kau berlari untuk sesuatu yang tiada. Membayarnya dengan mengorbankan cinta yang mengelilingimu. Sepantas itukah? Seberharga itukah? Bolehkah aku bertanya dimana kau tempatkan aku? Tidak, lupakan, tak perlu kau jawab(Ku tau kau sudah bosan dengan kalimat itu dan serupanya). Biar saja apa yang kulihat menjawabnya. Semoga saja waktu itu benar berharga untukmu.Sehingga tak akan ada penyesalan dalam perjalananmu.

Tidak ada komentar: